TRADISI PAGER DESO JAJAH PROJO

TRADISI PAGER DESO JAJAH PROJO

TRADISI BERSIH DESA / PAGER DESO KANTHI NJAJAH PROJO UDHO ini adalah cerita lama yang mana tradisi seperti ini saat ini sudah tiada lagi. Yang namanya tradisi tidak selamanya harus di uri-uri / dijaga agar lestari. Tradisi yang baik dan yang masih sesuai dengan perkembangan keyakinan dan peradaban di suatu masyarakat sudah pasti akan lestari, namun tradisi yang dianggap tidak lagi sesuai dengan perkembangan peradaban dan keyakinan pada suatu masyarakat dengan sendirinya di tinggalkan dan pastinya tidak akan bertahan, salah satu Tradisi di masyarakat jawa terutama yang pasti pernah ada dan saya ketahui ada di lingkungan Saya dahulu kala yang kini telah punah itu adalah Tradisi Pager Deso Atau Bersih Desa Kanti Njajah Projo Tanpo Busono Alias Udho.
TRADISI MALAM SURO JAJAH PROJO UDHO
Walaupun Tradisi Pager Deso Kanti Njajah Projo Tanpo Busono ini Sudah tidak Sesuai lagi dengan Perkembangan Zaman dan Keyakinan dan sepertinya kini telah punah, (terutama di lingkungan sekitar saya  lho ya) mungkin tidak ada salah Saya Tulis di sini untuk mengenang tradisi masa lalu itu yang mungkin generasi yang akan datang tidak tahu bahwa di tempat tinggalnya dahulu pernah ada tradisi semacam ini.

Apa Itu Tradisi Pager Deso Njajah Projo Tanpo Busono:
Zaman simbah-simbah/zaman nenek Kakek dahulu yang masih lekat dengan adat Tradisi Kejawen di malam-malam tertentu di bulan Suro yang biasanya adalah hari di mana malam itu di yakini Masyarakat setempat sebagai hari lahirnya Desa/Kampung ataupun Dusun maka Saat itu sering kali malam harinya di Sakralkan Penduduk Desa itu, Pada malam itu di Selengarakanlah Acara Bersih desa / Pager Deso. Entah apa nama asli Tradisi ini sebenarnya, dan Saya beri judul Njajah Projo Udho karena kegiatan itulah bagian dari ritual Bersih/Pager Deso Itu.

Banyak sekali kegiatan saat malam di mana diyakini hari itu hari lahir sebuah Kampung / Dusun / Desa, ada selamatan/Kondangan alias Kenduen, para penduduk Kampung/dusun/desa itu berkumpul Tirakatan dan Puncaknya pada Tengah malam Para Tetua Desa melakukan Ritual Njajah Projo Udho yaitu Orang orang yang di Tuakan di desa itu melakukan Ritual  mengelilingi desa dengan Tanpa busana yang melekat di badanya. Selama ritual ini mereka Pantang Bicara dan Tak akan Menyapa bila mana dalam perjalannanya berjumpa siapa saja. 

Ritual Pager Deso alias Bersih Desa ini dilakukan dengan tujuan dan diyakini pada masa itu bisa  Membentengi dari hal-hal yang tidak di inginkan terjadi di desa itu, Tolak balak dan hal-hal semacam itu.

Ritual ini masih di jalani Orang-orang Zaman dahulu saat Keadaan jalan di desa Masih sepi Gelap gulita belum ada listrik Masuk Desa sehingga suasana tengah malam itu sangat sepi jauh dari kesibukan manusia saat itu. Beda dengan Zaman sekarang di mana Jalan-jalan Terang benderang setelah adanya Listrik dan setiap saat kendaraan selalu berlalaulalang.

Mulai di tingalkannya Ritual ini adalah saat Listrik Mulai Masuk Desa dan semakin banyaknya kendaraan yang berlalulang di jalanan, walaupun tengah malam kini jalanan tak pernah sepi. Kejadian yang membuat tradisi ini tidak lagi di lakukan adalah  saat Para Sesepuh atau Tetua alias Orang-orang yang di tuakan di desa itu melakukan ritual Jajah Projo atau Keliling Desa ada Kendaraan yang melintas dan cahaya lampunya menerpa Mereka yang tanpa sehelai benangpun menutupi Tubuhnya, Entah apa yang ada pada perasaan mereka namun dalam Ritual itu mereka dilarang Berbicara Apalagi Menyapa, jadi mereka hanya diam saja.

Dengan kejadian seperti itu Kegiatan Semacam ini mulailah di tinggalkan Seiring juga dengan Perkembangan Keyakinan di mana Kegiatan Semacam itu Dirasa tidak sesuai lagi dengan Perkembangan Keyakinan Yang terjadi di masyarakat kampung itu. Kini Acara Pager Deso atau Bersih Desa ini hanya bagian-bagian yang dirasa masih sesuai dengan Zaman dan Keyakinan saja yang dilakukan, diantaranya masyarakat berkumpul, Syukuran, Tirakatan di isi dengan Pengajian dan kegiatan kegiatan semacamnya.

Itu satu bagian cerita Di Bulan suro yang Terjadi di desa Saya dan saya Rasa itu juga terjadi di desa-desa lainya di se antero tanah jawa Pada masa dahulu. Namun hal itu telah lama berlalu dan mungkin anak anak Zaman sekarang tidak mengetahui bahwa di tempatnya pernah ada dan hidup Tradisi semacam itu dan Tulisan ini Saya tulis tidak ada maksud apa-apa selain karena saya pingin cerita namun sepertinya kacau jalan ceritanya ya?






Terimakasih Telah Membaca: "TRADISI PAGER DESO JAJAH PROJO" Jika Berkenan Silahkan Bagikan Pada Kawan-kawan Di:

Twitter Google+ Fb Share
Posted by Mus Jono, Published at 9:44 PM and have 9 komentar

9 komentar:

  1. Apa bisa disebut jg sebagai tradisi selamatan ya mas...

    ReplyDelete
  2. klo dalam agama islam gimana hukumnya ikut tradisi ini ya mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. menurut sy sih selama tidak ada yg mnyimpang ndak masalah mas, yang namanya tradisi kan kebiasaan...kebiasaannya selamatan nya seperti itu y ndakpapa... :D

      Delete
  3. Kalau di tempat saya sekarang di ganti namanya jadi syukuran.Hehe..

    ReplyDelete
  4. kalo bersih desa dibeberapa tempat masih sering saya lihat tapi kalo yang sampe wudo blom pernah tau

    ReplyDelete
  5. apa dan bagaimanapun ritual pager deso tujuannya tentu ingin desanya menjadi lebih baik dong ah

    ReplyDelete