FESTIVAL TIRTA AMERTA

FESTIVAL TIRTA AMERTA

Fesival Tirta Amerta Kenduri Para Desa Even Yang di gelar Warga Dusun Tambak, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar yang Diselenggarakan Mulai Jumat malam Sabtu 20 Mei hingga Senin maalm selasa 23 Mei 2016,  Even ini saya ketahui dari Twet @RumahEmpu yang di retwit @bumi_intanpari
FESTIVAL TIRTA AMERTA KENDURI PARA DESA
 Gambar ini Saya ambil dari twitter @RumahEmpu 

Acara Tirta Amerta Kenduri Para Desa ini Terselenggara atas dasar Keinginan Warga Tambak Mberjo, Ngargoyoso Untuk Nguri-uri tradisi dan seni yang belakangan banyak di tinggalkan. Latar belakang dari acara ini adalah Bersih Desa Tradisi Yang Umum di laksanakan desa-desa di tanah Jawa dalam upaya Memohon pada yang Maha Kuasa untuk keselamatan Desa dan segenap warganya, terhindar dari mala bahaya, musibah sengkala dan semacamnya yang mana mungkin seiring perkembangan dan keragaman keyakinan di mana dahulu bersih desa identik dengan sesaji dan semacamnya kini berakulturasi dengan keragaman perkembangan agama dan keyakinan di mana hal itu kini jadi ajang sedekah dan doa untuk keselamatan bersama.

Keinginan Warga Dusun Tambak Untuk kembali Menghidupkan Tradisi yang bisa di kata beberapa saat Mati suri ini Di Dampingi Rumah Empu yang Salah satu Programnya adalah memberdayakan Masyarakat, wujud nyata kegiatan pemberdayaan itu salah satunya dengan nguri-uri menjaga melestarikan tradisi yang berpotensi bagi perkembangan dan kemajuan Desa.

Beragam Kegiatan di sajikan mulai Jumat malam Sabtu hingga  Senin malam Selasa, Tiga hari Empat Malam acara Silih Berganti menyemarakkan Tirta Amerta Kenduri Para Desa, Dusun Tambak, Desa Berjo, Ngargoyoso kali ini. Sayang Tidak Semua Acara itu bisa Saya ikuti dan hanya beberapa saja yang sempat saya datangi dalam  Festival kali ini. Salah satu yang bisa saya datang dan sedikit saya dokumentasi adalah pra acara pada Jumat malam Sabtu, kenapa saya sebut pra acara karena secara resminya festival Tirta Amerta ini di buka pada hari Sabtu Malam minggu, jadi sebelum itu bolehlah saya namakan Pra acara.

Pada Jumat Malam alias malam Sabtu Kebetulan saya lewat jalan Kemuning Karangpandan sekalian saja naik ke candi Sukuh dan ke selatan jalan menurun lalu naik sampai lah Saya di Dusun Tambak , Desa Berjo, dan di situ sudah di mulai Pemutaran filem/Bioskop Gunung Kerja Sama dengan Depdiknas dengan Mendatangkan Mobil Bioskop Keliling.
Kru Bioskop Gunung

Selesai Pemutaran Bioskop Gunung dilanjut Penampilan Band Seruling Dewata dari Dusun Cetho Tempat di mana Situs Candi Cetho berada di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.

Seruling Dewata ini lahir berawal dari Kecintaan Kang Mas Surata akan Seruling sehingga lahirlah Band ini. Bagi Kang Mas Suroto Seruling tak bisa lepas dari kesehariaannya, seruling sudah bagai istri ke suanya. Instrumen seruling baik pada Gamelan Jawa maupun musik-musik lainya biasanya hannyalah sebagai pelengkap saja, namun di Seruling Dewata ini Seruling diangkat di jadikan tokoh sentralnya.

Sedikit di sayangkan Baru akan Cek Soun Salah satu instrumen yang berupa Bas Pake Terubel segala, entah Putus sepul atau copot Konektornya yang pasti harus pakai acara ngesolde-solder segala. Selesai memperbaiki Bas mungkin karena terlalu malam dan pengunjung sudah tak sabar bahkan banyak yang pulang duluan hingga tak sempat Cek soun dan langsung Performa Saja.

Di awal Sudah bermasalah dan hanya Lima Lagu atau apa ini namanya untuk instrumen macam begini? Karena memang saya sangatlah awam akan hal ini, namun malam itu saya sangat menikmati pertunjukannya, sayang belum sampai klimaks pada bagian ke lima terputus karena mati Disel/Genset untuk Soun sistem alias Pengeras Suara hingga harus di sudahi pertunjukannya. Ini Saya sertakan link tiga video yang sempat saya dokumentasikan
Banyak lagi sebenarnya acara di Hari berikutnya
Di hari Sabtu hingga Malam Minggu ada Galih Nagaseno dan Semeleh dari Surakarta, Workshop Pupuk Cair Organik oleh Mbak Denok-GROPES, Gamelan Wali Alang-alang dari Surakarta, Adit P Pratama (Balada Tecno Music-Solo), Rumah Budasya Mas Inung Jakarta, Jazz Aditya n' friend dari Pekalongan, Opening FESTIVAL Penampilan Khusus oleh PESONA NUSANTARA dan Sanggar Padma Wibakso dari Boyolali, Angeluque D Bassle dan Saka Gallerues dari Surabaya, serta Wayang Pring Oleh Ki Sri Widodo-Balamoa
Hari Minggu hingga malam Senin : Jalan Lintas Alam NAPAK WANA TAMBAK di meruagkan Elektone M. Agos Kenthos (HMC Kaeanganyar), Wayang Kuwaci Oleh Ki Agung Pengging Boyolali, Hanacaraka Music Course dari Karanganyar, Kemlaka Musik Etnik dari Surakarta, Tari Dewi Windati dari Surakarta, Wayang Suket Reynion Solo Karanganyar DIY Tegal, Wayang Cing Cingmong oleh Ki Sri Waluyo Karanganyar, Lengger Lanang dari Banymas dan Wayang Sandosa oleh Ki Maegono Sawago dari Surakarta. Beragam acara Pertunjukan seni dan budaya silih berganti Yang semuanya karena ini dan itu saya lewatkan.

Barulah Pada hari Senin Saya menyempatkan untuk Mendatangi Festival Tirta Amerta ini. Agenda hari Senin adalah Penampilan Gong Ganjor Dari Cetho, Gumeng, Jenawi Dan Kirab Ki Semar Sang Pamong Dari Pelataran Candi Sukuh Mipitan Menuju Situs Plagatan dan ke Panggung Utama Kemantren. Sayangnya Saya Telat Datangnya, maksud kati ingin menyaksikan Pertunjukan di Pelataran Candi Cetho hingga Kirap Mboyong Ki Lurah Semar Bodronoyo Sang Pamong namun ternyata Sudah Selesai acaranya di mana Tokoh Semar yang replikanya di buat sangat besar telah lerem bersemayam di panggung Kemantren Panggung Utama Festival Tirta Amerta Kenduri Para Desa Kali ini.
Sosok Semar Sang Pamong

Saya sampai di situ sudah selesai kirab Semar Sang Pamong dan sudah di mulai pidato Sambutan dari pihak terkait dan diantaranya berisikan Semar Bodronoyo adalah seorang Pamong yang mampu Momong alias Menjaga, Memelihara dan Mengarahkan Momongannya Yaitu Pandawa untuk tetap teguh memegang dan melaksanakan Kebenaran dengan segala situasi, kondisi dan Kebijaksanaannya. Semar Bodronoyo adalah sosok mulia walau fi balut dengan wadak yang kurang Sempurna, Dia Pria namun Berpayudara, Menangis Seperti tertawa begitu pun sebaliknya Tertawa menangis Kedengarannya, Namun disiutlah Terkadang Sempurnanya Kebaikan itu terletak Pada ke tidak  Sempurnaan.

Siapakah Sebenarnya Sosok Semar Itu? Semar sejatinya bukanlah siapa-siapa, Semar adalah masing-masing diri kita Sosok semar ada pada setiap Kita yang mampu menggunakan Nurani Sehingga tindakan Selalu terarah pada kebaikan yang sebenarnya dan lain-lain masih Banyak lagi sebenarnya.

Puncak Acara Tirta Amerta Kenduri Para Desa Di Dusun Tambak, Berjo, Ngargoyoso ini ada di Senin Malamnya di mana malam itu digelar ritual dan Doa Bersih Desa Untuk Memohon Pada yang Kuasa agar Desa Dan Segenap Warga Diberi Keselamatan Dan Dihindarkan dari Segala Musibah dan Malabahaya. Dan Sebagai Gong Penutupnya adalah Pagelaran Wayang Kulit Oleh Ki Manteb Sudarsono dengan Lakon Sudamala.

Sebenarnya kepingin sekali nonton  pagelaran Wayang Kulit Sudamala oleh Ki Manteb Sudarsono ini namun lagi-lagi Karena ini dan itu batal untuk mewujudkannya. Yang Pasti Salud Saya Pada Warga Besar Dusun Tambak Dan Semua Pihak yang Telah Sukses Nenyelengarakan Acara ini, Ow iya Dusun Tambak ini adalah Salah Satu di antara sekian Pemukiman Terakhir di Lereng Gunung Lawu yang juga  menjadi salah satu Pintu Pendakian Menuju Puncak Gunung Lawu dan sebagai Penutup Posting ini adalah Video Reog Ponorogo yang Saya dokumentasi di acara setelah Kirab Semar Sang Pamong Di Panggung Kematren Panggung utama FESTIVAL TIRTA AMERTA KENDURI PARA DESA  ini.









Terimakasih Telah Membaca: "FESTIVAL TIRTA AMERTA" Jika Berkenan Silahkan Bagikan Pada Kawan-kawan Di:

Twitter Google+ Fb Share
Posted by Mus Jono, Published at 12:51 PM and have 5 komentar

5 komentar:

  1. mantap sekali vestivalnya ya gan, ramai juga

    ReplyDelete
  2. festival tirta amerta ada ritual bersih juga toh.. adat tradisional yang harus dipertahankan nih..

    ReplyDelete
  3. Wah keren kang vestifalnya... ramai, dan acaranya banyak juga ya

    ReplyDelete
  4. Duh beda banget sama pertifal yang ada di tempat saya gak rame nih sepertinya harus dicoba nih.

    ReplyDelete
  5. Wow keren kang vestifalnya... ramai, dan acaranya banyak juga. Suport terus buat nguri nguri kebudayaan kita.

    ReplyDelete